Kamis, 17 November 2011

Aku, (belum) Sehebat Ibuku


Enam hari ini rumahku sangat sepi tanpa kehadiran Ibu. Ibu yang seriap harinya selalu mengomel, entah karena rumah berantakan atau kami anak-anaknya yang kurang rapi dalam sesuatu hal, entah, selalu saja ada hal yang membuat Ibu kurang berkenan. Yap! Itulah ibuku. Selalu “cerewet” namun positif dan sangat berguna bagi kami, membangun diri kami untuk menjadi lebih baik, tangguh dan tegar.
Ibuku sayang sudah enam hari ini pergi ke kampung halamannya di Jawa Timur. Kami tak dapat menolak kepergian Ibu yang memang sementara itu untuk berbakti dan mencari surga yaitu merawat eyang kami, ibu kandung Ibuku yang kina sudah renta dan inilah saatnya untuk Ibu mengabdikan diri untuk eyang di hari tuanya.
Di rumah tanpa Ibu bagaikan soup tanpa garam. Sepi. Sunyi. Hampa. Yang biasanya pagi-pagi sudah mendengar celotehan Ibu, kini rumah nampak sepi. Yang biasanya di tiap pagi Ibu sudah menyiapkan barang dagangan untuk dijual, kini dapur pun kosong. Yang biasanya Ibu selalu memasakkan kami untuk sarapan atau makan siang atau ada saja olahan makanan, kini aku pun harus berkutik dengan dapur dan bumbu-bumbu yang harus menjadi masakan. Membereskan seisi rumah yang biasanya kami selalu berbagi tugas dengan Ibu. Yang setiap malam aku dan adikku bergantian untuk memijit Ibu karena kelelahan mengurus rumah. Hiks! Dan aku yang selalu mecurahkan segala isi hatiku setiap aku pulang ke rumah
Dan aku pun menyadari, aku (belum) sehebat Ibuku. Terkadang aku masih enggan untuk memasak. Terkadang masih mengeluh capek, padahal Ibu melakukan semua rutinitas rumah tangga itu setiap hari. Benar-benar “wanita karir” sejati. Wow! 4 jempol sebagai penghargaan pun tak cukup diberikan kepada Ibu. Ibu yang begitu kuat, tangguh, tegar dan perhatian. Ibu yang tanpa kenal lelah melayani suami dan anak-anaknya yang bandel ini setiap detik dalam setiap harinya. Ibu yang sangat kuat dengan setiap terpaan cobaan yang datang silih berganti. Ibu yang begitu tegar dan tidak pernah sekalipun mengeluarkan tetes air mata di depan anak-anaknya. Benar-benar aku merindukan Ibu. Cepat pulang ya Bu! ^^
aku dan ibuku sayang :'')

Sabtu, 12 November 2011

11-11-11 Memang Istimewa


Pagi itu, hari Jumat yang biru secerah hatiku. Hari yang istimewa pula di tahun ini. Aku dan teman-teman kampus pergi ke Solo. Memang sengaja kami pergi ke Solo dengan tujuan menghadiri pernikahan teman sekampus kami. Benar-benar hari yang special sekali dengan angka cantiknya, 11-11-11. Tak dipungkiri, banyak ibu hamil yang sengaja mengepaskan tanggal kelahiran anak-anak mereka dengan angka cantik ini. Tak sedikit pula yang menggelar acara pernikahan di tanggal cantik yang penuh berkah ini. 11-11-11 di hari Jumat. Wow!
Yap! Kami berenam yang semua perempuan itu sudah bersiap melakukan perjalanan dengan menggunakan Kereta Pramek. Pagi-pagi sekali kami datang ke Stasiun Tugu. Membeli tiket dan menunggu kereta datang. Beberapa menit kemudian, akhirnya kereta pramek yang datang dari Kutoarjo itu menghampiri. Kami pun dengan riangnya masuk ke dalam kereta. Mencari tempat duduk yang kosong. Yosh! Kami berenam pun dapat duduk bersebelahan. 
Depan: Kiri-kanan: Dian dan Ari. Belakang: Kiri-Kanan: Prima, me, Anis dan Dini

Kereta Pramek melaju dengan kencangnya. Pemandangan indah dapat disaksikan dari balik kaca jendela kereta. Nampak Gunung Merapi yang menjulang tinggi dengan gagahnya. Sawah-sawah nan hijau terhampar luas di sisi kanan dan kiri. Petani yang sedang asyik menggarap sawahnya pun terlihat nyata. Benar-benar negeriku yang kaya alam nan cantik ini.
Ketika aku sedang asyik menikmati pemandangan sekitar. Tiba-tiba terdengar suara petugas berseru dan menghampiri seorang ibu, “Silakan ibu pindah ke gerbong khusus wanita. Di sana masih ada yang kosong.”
“Gerbong wanita?” aku terhenyak dari keasyikanku. Baru pertama kali mendengar ada gerbong wanita di kereta. Maklum lah, baru dua kali itu aku naik pramek. Dan karena penasaran, aku pun bertanya pada salah seorang temanku.
“Gerbong wanita kek mana sih, Din? Ada ya?”
“Ada. Biasanya sih di bagian belakang, tapi kok ini di depan ya. Trus gerbong wanita tu enak. Cewek semua.”
“Oh gitu ya.” Aih, jadi pingin nyobain deh. Moga-moga nanti pas pulang bisa ngerasain, hehe.
Di dalam kereta pun kami menikmati suasana kereta dengan penuh suka cita. Hingga tak terasa kami sudah sampai di Stasiun Purwosari. Kami turun dan bergegas mencari kendaraan agar segera sampai di gedung untuk dapat menyaksikan ijab qabul teman kami yang akan dilaksanakan tepat pukul 11.11 WIB. Ya! Lagi-lagi angka cantik. Dan becak pun menjadi pilihan kami.
senyum pe*so*e** yuuuk! cheers :)
Prima dan Azie
nongol dua orang laki-laki di belakang kami. hihi

suka liat foto ini. "Kemanapun kau pergi kakanda, adinda akan ikut." "Genggam tanganku erat ya adinda. Akan ku ajak kau ke bulan." hihihi, lalu mereka saling berpandangan dan tertawa lepas. Hehehe ;p

Menculik si pengantin untuk foto bersama para bidadari ;p

Dan panggung pun dihebohkan oleh kehadiran anak-anak AN. Yeay! :D
Finally, resepsi pun berakhir dan saatnya berfoto. Yiha! :D

******

Setelah selesai acara pernikahan, kami pun mengecek jadwal kedatangan Kereta Pramek di Stasiun Purwosari. Dan ternyata jadwal kereta terdekat pukul 15.15. Kami pun bergegas menuju stasiun agar tidak ketinggalan kereta dengan menggunakan becak. Sesampainya di stasiun, kami membeli tiket Pramek seharga sepuluh ribu, harga yang lumayan lah ya dan semoga saja tidak naik lagi deh harganya.
Beruntungnya kami di sore hari itu. Kereta Pramek sedang on the way menjemput kami. Dan yes! Kereta pun datang, kami langsung melompat dengan girangnya ke atas kereta. Sore itu kereta penuh sesak oleh para manusia. Kami pun terpaksa berjalan dari satu gerbong ke gerbong yang lain untuk mendapatkan tempat duduk yang kosong. Satu gerbong terlewati tapi hasilnya nihil. Kami pun berjalan lagi dan lagi.
Hingga akhirnya kami menemukan tulisan yang tertempel di dinding, gerbong khusus wanita Taraaa! Yeay! Finally, aku pun bisa merasakan masuk ke gerbong khusus wanita, meskipun pada awalnya kami harus berdiri karena semua tempat duduk sudah ditempati. Setengah jam lamannya kami berdiri. Hosh! Lumayan pegal juga, tapi senang karena bisa melihat pemandangan dengan lebih dekat.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...